MEMBANGUN MOTIVASI DIRI SENDIRI
MEMBANGUN MOTIVASI DIRI SENDIRI
Assalamualaikum wr.wb
Perkenalkan nama saya Mohamad Ilyas Suti, saya seorang mahasiswa gunadarma. Saya curahkan tulisan ini guna sebagai bahan penulisan tugas dan juga sebagai motivasi untuk diri saya.
Pengalaman saya ketika orang tua saya bercerai tahun lalu, saya dan adik saya mengalami shock berat, tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan untuk keluar rumah. Menatap mata tetangga rumah saja pun malu. Saya sering sekali mendengar gosip dari ibu pkk dan warga sekitar akibat perceraian orang tua saya.
Terus terang itu adalah pengalaman yang sangat menyakitkan. Akibat perceraian orang tua saya, saya pun mulai mengalami masa-masa dimana saya melakukan hal yang sia sia seperti pulang malam dan bergaul dengan teman saya yang bisa dibilang nakal.
Saya merasa tidak punya apa apa, sendiri. Dan terlebih lagi saat itu saya benar benar merasa hampa. Hancur mungkin kata kata yang tepat untuk menggambarkan betapa rusak nya mental saya saat itu.
Namun disaat yang bersamaan, saya malu dengan apa yang sudah perbuat. Saya malu dengan adik saya lebih muda dari adik saya. Dia lebih tabah, sabar dan menerima keputusan orang tua saya bahwa perpisahan itu jalan yang terbaik. Saya coba perlahan menerima keadaan yang setiap hari nya sangat sakit. Namun saya perlahan mulai bisa mengatasi rasa sakit itu. Ada 1 ingatan yang membekas . yaitu ucapan adik saya yang membuat saya menjadi tegar.
Adik saya berkata “abang, abang gak kasian ngeliat adek? Gak malu sama adek klo abang terus begini kaya mencoba hal hal gak baik? Adek tau abang sakit, tapi adek lebih sakit. Harus bolak balik kerumah tante risa biar gak denger ayah sama ibu berantem terus. Cuma adek harus sabar bang. Abang harus kuat juga kaya adek”
Perkataan adik saya menampar saya dengan telak, saya terdiam dan sejenak menyesakan dada ketika harus tau keadaan adik saya lebih tertekan dan lebih banyak beban pikiran yang berkecambuk di batin nya.
Dengan segala kekuatan, saya berdoa. Agar diberi kekuatan seperti sekarang agar saya bisa lebih bersyukur atas kehendakNya. Sebab tidak ada yang paling sempurna selain skenarioNya. Dibalik semua itu ada hikmah yang saya bisa ambil.
Mungkin orang tua saya harus berpisah demi kebaikan mereka berdua dan ada beberapa hal yang tidak bisa mereka sampaikan. Namun saya yakin, masalah itu maksud nya.
Saya jadi lebih optimis semenjak ucapan adik saya itu. Saya yakin dan percaya bahwa tuhan tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan hambanya, jika saya diberi cobaan dan terpaan seperti ini. Saya yakin saya bisa melewati dan mengatasi masalah itu. Saya yakin tuhan itu punya maksud baik. Teruslah berperasangka baik kepada tuhan. Karena tuhan lah “sang maha penulis skenario terbaik”
Assalamualaikum wr.wb
Perkenalkan nama saya Mohamad Ilyas Suti, saya seorang mahasiswa gunadarma. Saya curahkan tulisan ini guna sebagai bahan penulisan tugas dan juga sebagai motivasi untuk diri saya.
Pengalaman saya ketika orang tua saya bercerai tahun lalu, saya dan adik saya mengalami shock berat, tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan untuk keluar rumah. Menatap mata tetangga rumah saja pun malu. Saya sering sekali mendengar gosip dari ibu pkk dan warga sekitar akibat perceraian orang tua saya.
Terus terang itu adalah pengalaman yang sangat menyakitkan. Akibat perceraian orang tua saya, saya pun mulai mengalami masa-masa dimana saya melakukan hal yang sia sia seperti pulang malam dan bergaul dengan teman saya yang bisa dibilang nakal.
Saya merasa tidak punya apa apa, sendiri. Dan terlebih lagi saat itu saya benar benar merasa hampa. Hancur mungkin kata kata yang tepat untuk menggambarkan betapa rusak nya mental saya saat itu.
Namun disaat yang bersamaan, saya malu dengan apa yang sudah perbuat. Saya malu dengan adik saya lebih muda dari adik saya. Dia lebih tabah, sabar dan menerima keputusan orang tua saya bahwa perpisahan itu jalan yang terbaik. Saya coba perlahan menerima keadaan yang setiap hari nya sangat sakit. Namun saya perlahan mulai bisa mengatasi rasa sakit itu. Ada 1 ingatan yang membekas . yaitu ucapan adik saya yang membuat saya menjadi tegar.
Adik saya berkata “abang, abang gak kasian ngeliat adek? Gak malu sama adek klo abang terus begini kaya mencoba hal hal gak baik? Adek tau abang sakit, tapi adek lebih sakit. Harus bolak balik kerumah tante risa biar gak denger ayah sama ibu berantem terus. Cuma adek harus sabar bang. Abang harus kuat juga kaya adek”
Perkataan adik saya menampar saya dengan telak, saya terdiam dan sejenak menyesakan dada ketika harus tau keadaan adik saya lebih tertekan dan lebih banyak beban pikiran yang berkecambuk di batin nya.
Dengan segala kekuatan, saya berdoa. Agar diberi kekuatan seperti sekarang agar saya bisa lebih bersyukur atas kehendakNya. Sebab tidak ada yang paling sempurna selain skenarioNya. Dibalik semua itu ada hikmah yang saya bisa ambil.
Mungkin orang tua saya harus berpisah demi kebaikan mereka berdua dan ada beberapa hal yang tidak bisa mereka sampaikan. Namun saya yakin, masalah itu maksud nya.
Saya jadi lebih optimis semenjak ucapan adik saya itu. Saya yakin dan percaya bahwa tuhan tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan hambanya, jika saya diberi cobaan dan terpaan seperti ini. Saya yakin saya bisa melewati dan mengatasi masalah itu. Saya yakin tuhan itu punya maksud baik. Teruslah berperasangka baik kepada tuhan. Karena tuhan lah “sang maha penulis skenario terbaik”
Komentar
Posting Komentar